bagaimanapun kau tetap INDONESIA ku

 

Mau susah, mau senang
Mau tulus, mau di prasangka
Seperti buah pahit simalakama
Pandangan melahirkan asa
Asa membawa kecintaan
Lalu terlahir jadi nyata
Namun sekali lagi sungguh sulit
Baik saja salah, apa lagi salah.
Benar saja tidak benar, apalagi tidak benar.
Menyalurkan kasih divonis menyebarkan firman
Meniupkan keadilan malah jadi bulan bulanan.
Yang hebat sudah tiada, harusnya jadi bapa bangsa
Yang ada hanya tebar pesona dan berjanji dusta
Lembaga bukan lagi lembaga
Semua ada kepentingan dan juga keserakahan
Yang katanya menentukan tentang keadilan
Malah jauh dari keadilan
Yang katanya berprinsip pelayanan
Malah menjadi pemerasan
Setali tiga uang, bak pinang dibelah dua
Kalo penyanyi bilang mau dibawa kemana?
Mungkin tepatnya dibawa ke lembah ratapan
Kalau mereka bilang itu ada garuda didadaku,
Cuma simbol saja tanpa perilaku
Yang ada juga hanya hal semu, dan kaku
Tak bisa menyatu.

Sebelah utara meniup
Sebelah selatan menghisap
Sebelah barat menggali
Sebalah timur menimbun

Tiap hari mendengar
Tiap hari melihat
Semua bangga dengan seragamnya
Tapi tak pantas dengan kelakuannya
Semua bangga dengan korpsnya
Tapi tak sesuai dengan semboyannya
Mungkin hanya bencana yang bisa menyatukan semuanya
Dan malapetaka yang bisa menghentikan semua.
Tapi apa perlu azab itu turun ke atasnya
Atau memporakporandakan ibu pertiwi tercinta?

Laut itu asin rasa airnya.
Bagaimana itu mau ditawarkan?
Sia sia.
Matahari itu terbit dai ufuk timur.
Bagaimana berharap akan terbit dari ufuk barat?
Lagi lagi sia sia.

Apa yang harus dirubah?
Atau siapa yang harus merubah?
Kantongku penuh, buat apa kuurusi kantongmu?
Airku banyak, buat apa kupikirkan kemaraumu?

Tak pernah tenang barang sekejap.
Hari raya hanya dijadikan cara tiarap sementara
Setelahnya,
Rambut yang hitam bukan makin hitam, tapi makin beruban
Tawa hanya ada diujung bibir, bukan dari hati.
Menangis hanya bermodalkan obat tetes saja, bukan karena iba
Atau pun karena haru.
Sinetron bukan saja di televisi
Tapi dalam kehidupan sehari hari
Petani jadi pejabat,
Pelawak jadi pengusaha,
Serdadu jadi pemuka,
Preman jadi guru,
Selebritis jadi pejabat
Pejabat jadi selebritis

Orang kaya jadi orang miskin
Dan jadi orang hina, katanya cintami atmanegara,
Bayar pajak aja susah.
Orang miskin jadi orang kaya,
Tidur nyenyak, makan nikmat,
Walau hanya dikolong jembatan,
Atau makanan dari warteg tetangga.

Kalo bukan dari sekarang, kapan lagi.
Apa seharusnya Yang Kuasa ciptakan manusia,
Tanpa kemaluan?
Apa seharusnya yang kuasa ciptakan manusia dengan banyak kemaluan?
Karena mereka tidak tahu malu.
Atau kurang mengerti apa itu malu dan memalukan
Apa itu kemaluan dan malu maluin
Dan mana yang bikin malu dan mana yang tidak

Yang bener jadi keblinger
Yang salah jadi makin ngelantur

Memvonis bersalah diperiksa
Memvonis bebas lebih diperiksa

Katanya miskin, kok punya banyak tanah?
Katanya dagangan sepi,kok tokonya makin banyak?
Katanya gaji kecil, lalu boleh korupsi?
Katanya birokrasi bikin pusing, lalu boleh suap menyuap?
Katanya biasa lama, kaget kalo sebentar?
Katanya buat apa dipersulit,kalo bisa dibikin mudah?
Ah, itu hanya slogan semata
Sidak sementara, lalu tiarap
……………..
lagi lagi hanya sementara.
Sesudahnya kembali seperti semula
Nikmat, katanya

Ada ada saja
Penyelesai masalah gudangnya masalah
Pengayom kesehatan malah sarang penyakit
Penegak keadilan malah tidak adil
Pelayan masyarakat malah dilayani masyarakat
Mau jadi pahlawan?
Dikeroyok rame rame
Bila perlu diancam rame rame
Ngakunya dari den den
Yang satu ngaku dari sus sus
Tugasnya:
Mengintimidasi
Menghilangkan nyawa orang
Sekarang jaman Markus, padahal lebih kejam dari Petrus

Warna saja jadi kebanggaan. Buat apa?
Sok idealis, sok nasionalis.
Bayar pajak tak mau
Bayar pajak selalu menghindar
Ada saja 1001 alasan
Katanya garuda di dadaku

Sukanya ribut melulu, ribut bukan melawan musuh
Hanya berani melawan saudara sendiri.
Mereka yang nonton, hanya ketawa
Jadi tontonan kok bangga.
Biar eksis?
kelaut aja…..
tau ga arti garuda didadaku?
tau ga arti merah putih adalah kebanggaanku
tau ga arti Indonesia tumpah darahku?
Berantas tikus tikus got!
Perampas beras rakyat
Berantas kejahatan kerah putih!
Perampas kekayaan negara
Perampas hak azasi rakyat jelata
Berantas anarki berkedok agama
Jangan nodai kesucian
Jangan nodai akhlak kemanusiaan
Agama?
Mana ada agama keras
Yang ada juga garis keras
Mana ada agama jahat?
Yang jahat juga manusia nya
Mana ada agama salah?
Yang salah selalu penganutnya
Kapan Indonesia maju?
Sekaranglah saatnya
Kapan Indonesia jaya
Sekaranglah mulainya
Bukan hanya sebuah legenda
Tapi ini saatnya…
Karena Bagaimanapun,
Engkau tetap Merah Darahku
Engkau tetap Suci negaraku
Engkau tetap INDONESIA ku.
(repost from smile)
SELAMAT ULANG TAHUN INDONESIA KU
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s