Fail or NO faiL..

 

Gagal itu sederhana. Kita melakukan sesuatu, dan kemudian kita belum mendapatkan hasil sebagaimana yang kita inginkan.

 

Segera setelah sebuah kegagalan menjadi kenyataan, reaksi alamiah dari mentalitas manusiawi kita adalah tidak langsung mempercayai kegagalan itu sebagai kenyataan kehidupan.

 

Reaksi ini membuat kita “melontarkan diri” keluar dari kenyataan untuk sementara.

 

Jika kita menolak kegagalan, Kita akan terjebak membuang waktu di dalam ilusi-ilusi yang menyakitkan, dan kita menggeser realitas kehidupan keluar dari jalur yang kita tetapkan sebelumnya tentang arah hidup kita.

 

Ciri penolakan adalah tidak mengakui keberadaan kegagalan, dan terus berupaya dengan sia-sia.

 

Jika kita menghindari kegagalan, maka kita telah menyerahkan anak kunci pintu itu kepada orang lain. Kita akan menyerahkan pembentukan dan pembangunan realitas kehidupan kita selanjutnya kepada pihak-pihak yang bukan kita. Kita juga menggeser realitas kehidupankeluar dari jalur yang kita tetapkan sebelumnya.

 

Ciri penghindaran adalah berusaha melupakan kegagalan, tanpa membawa hikmah danpembelajaran. Kita tidak membolos sekolah, tapi di luar kelas.

 

 

Jika kita menerima kegagalan, maka kita telah secara langsung membuka pintu itu dankembali masuk ke dalam realitas kehidupan kita. Kita menjadi manusia yang memiliki niatdan kemauan untuk bertanggungjawab dalam mengkreasi kehidupan kita sendiri, sesuaijalur yang kita tetapkan sebelumnya.

 

Setelah tiba di dunia nyata kembali, segala hal pada dasarnya telah kembali pula berada dalam genggaman tangan kita.

 

Dengan menerima, kita akan segera menyadari, bahwa hidup kita telah menjadi managable lagi.

 

Menerima saja tidak cukup. Jika kita diam setelah mengalami kegagalan, maka kita membiarkan diri kita tenggelam di dalam kenyataan. Artinya, kita menciptakan realitas kehidupan yang tenggelam.

 

Jika kita bertindak setelah mengalami kegagalan, maka kita langsung melatih kembali segalakekuatan dan kemampuan. Ini berarti, kita telah mengembalikan semangat kehidupan. Ini berarti, kita telah mengembalikan mentalitas yang sesuai dengan tuntutan jalur kehidupanyang telah kita tetapkan sebelumnya. Kita kembali di jalur dengan panel penunjuk energi yang “full” lagi.

 

Bisakah kegagalan dihindari? Tidak. Itulah caranya kita belajar. Tak ada manusia yang seratus persen berhasil dalam apapun yang dikerjakannya. Ini masih dunia, bukan surga.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s