antara LOGIKA dan PERASAAN

 

..kita mempunyai tujuan.  Dan tujuan menentukan jalan. Jalan mendefinisikan diri dan kehidupan. Kita mungkin kurang menyadari, hingga selama ini kita berjalan secara otomatis dan terseok-seok in-track, out-of-track, in-track, out-of-track, in-track, out-of-track dan seterusnya.

bijaksana jika kita melakukan reset, dengan menetapkan dan menegaskan kembali pilihan dasar kita, misalnya bahagia atau sengsara, senang atau susah, berhasil atau gagal, fujur atau taqwa, dan seterusnya. Begitu pula, tentang pilihan misi hidup kita. Kemudian, tetapkan dan tegaskanlah pada diri kita sendiri, bahwa dengan ini kita telah memantapkan diri untuk meletakkan fisik, pikiran, dan perasaan agar berjalan bersama secara harmonis di jalur yang kita pilih atau “the path” dalam rangka memenuhi harapan dan cita-cita dengan integritas internal.

Setiap kita ingin hidup yang bermakna.  Proses kerja memerlukan alat dan perlengkapan untuk memaknai. Alat dan perlengkapan itu, di antaranya adalah “pikiran” dan “perasaan”. Keduanya saling mempengaruhi.

Untuk menjaga kelurusan kita butuh secara konsisten dan periodik keluar dan menjadi pengamat atas konsistensi keduanya terhadap. “The path” di-ideal-kan sebagai sesuatu yang lurus. Sebab, waktu kita terbatas. Inilah yang disebut dengan Manajemen LOGIKA dan PERASAAN.

Kita telah terbiasa dengan “perasaan menciptakan pikiran”. Pilihan kita kini adalah berlatih membiasakan diri dengan “pikiran menciptakan perasaan”.

..Ketika sesuatu bisa dilekati dengan kata, sesuatu itu menjadi ada..

Keberadaan adalah tentang perwujudan-perwujudan. Makna-makna di dalam hidup kita adalah tentang bentuk-bentuk manifestasi alias perwujudan. Dari “tidak ada” menjadi “ada”. Dari “belum” menjadi “sudah”. Dari “kini” menjadi “akan”. Dari “belum tercapai” menjadi “tercapai”. Dari “belum menjadi” ke “menjadi”. Dari “belum memiliki” menjadi “memiliki”. Semua itu, adalah esensi dari setiap tujuan dan cita-cita.

Setiap tujuan dicapai dengan bertindak. Di belakang setiap tindakan ada keputusan. Di belakang setiap keputusan ada sikap. Di belakang setiap sikap ada keyakinan. Setiap yang kita pikirkan dan rasakan, disadari atau tidak disadari, selalu ditopang oleh bentuk-bentuk keyakinan. Pikiran dan perasaan adalah dua hal terdekat yang setiap saat berlangsung di dalam diri kita. Kedekatan ini, memungkinkan kita lebih mudah memahami berbagai sinyal terkait dengan kelurusan “the path”. Kemudahan ini, dimungkinkan oleh sederhananya tuntutan untuk menangkap sinyal-sinyal tanpa harus berilmu tinggi dan tanpa harus berpengetahuan dalam. Cukup dengan “common sense”, cukup dengan “hati nurani”. Tuhan Maha Adil, Tuhan Maha Pemurah.

“Manajemen Pikiran Dan Perasaan” adalah struktur yang mendasari bangunan pikiran dan perasaan di mana kita hidup di dalamnya.

Satu keyakinan terkait dengan keyakinan yang lain, satu pikiran terpaut dengan pikiran yang lain, dan satu perasaan berhubungan dengan perasaan yang lain. Begitu pula, antar keyakinan, pikiran, dan perasaan itu sendiri. Setiapnya tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus bekerjasama saling mendukung dan saling menguatkan.

“Pikiran” dan “Perasaan” adalah “content”. “Keyakinan” adalah “energi”. Seperti “siaran radio” yang berjalan di atas “gelombang elektromagnetik”. Apapun keyakinan, ketika tertuangkan ke dalam kata-kata, ia menjadi produk dari “pikiran”, ia menjadi penyederhanaan dari “energi”. Itu sebabnya, “content” saja tidak cukup sebab “energi”-nya telah tereduksi ke dalam terbatasnya bahasa dan kemampuan melekatkan pengertian. “Energi” itu bisa diaktifkan kembali alias dikembalikan ke kekuatan asalnya, dengan kombinasi “pikiran” dan “perasaan”. Kombinasi itu adalah “keyakinan”. Energi itu adalah keyakinan.

Kita hidup di dalam sebuah tempat yang kita sebut dengan dunia. Bekerjasama dengannya-lah, kita menjalani “the path” untuk mencapai tujuan. Kerjasama itu, kita jalani semaksimal mungkin dengan “bahasa yang sama”. Bahasa energi, bahasa keyakinan. Kerjasama itu, berbentuk aliran-aliran dan sinkronisasi berbagai hal dan komponen yang menjadi wahana dan jalan bagi kita untuk sampai ke tujuan.

Seluruh aliran itu dieksekusi dengan keharmonisan sikap, keputusan, dan tindakan, di dalam bentuk-bentuk keyakinan, yang identifikasinya adalah “pikiran” dan “perasaan”.

END NOTE

Jika Anda mempertanyakan semua ini, keyakinan apakah yang ada di balik pertanyaan Anda?

“Feeling bad is a good thing. Negative feelings mean you’re going the wrong way.”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s