Provokasi

Dari definisi di atas tolok ukur keberhasilan dari sebuah provokasi adalah adanya tindakan, atau minimal perasaan tidak tenang, atau amarah.

Bagaimana cara melakukan provokasi?

Provokasi berhubungan dengan motivasi. Bedanya dalam memotivasi seseorang kita (biasanya) tahu tindakan yang akan dilakukan oleh obyek. Sedang dalam melakukan provokasi, hal itu sulit dilakukan.

Motivasi setiap manusia dalam melakukan sesuatu ada 2 jenis:Menghindar dan Mengejar. Misalnya, kita belajar untuk menghindaridicap bodoh oleh teman atau mengejar prestasi juara kelas, misalnya. Yah, tahu maksudnya kan?

Tujuan provokasi adalah memberikan stimulus, rasa tidak tenang, yang akhirnya menjadi sebuah tindakan. Provokasi sendiri bisa dilakukan dari 3 sudut pandang:

  1. Kamu dan Mereka, kita memprovokasi obyek untuk mengambil tindakan terhadap “mereka”. Misalnya orang luar yang memprovokasi buruh untuk melakukan demo.
  2. Kita dan Mereka, kita memprovokasi obyek untuk mengambil tindakan bersama kita terhadap “mereka”.
  3. Kamu dan Aku, kita memprovokasi obyek untuk mengambil tindakan terhadap provokator. Misalnya provokasi Materazzi kepada Zidane.

Setelah bisa mendefinisikan sudut pandang maka, provokator harus memahami karakteristik obyek. Antara lain (dan tidak terbatas pada):

  • Impian obyek
  • Rasa tidak aman obyek
  • Kondisi psikologis obyek, termasuk kepercayaan diri
  • Orang yang penting bagi obyek
  • Cara pandang obyek terhadap lingkungan
  • Hubungan obyek dengan lingkungannya
  • Kebutuhan obyek

Dari daftar di atas bisa, terutama tentang rasa tidak aman obyek, dirumuskan strategi untuk memancing kondisi tidak tenang pada obyek. Misalnya, obyek memiliki ambisi untuk menjadi seorang pemimpin, maka kita bisa menggugah rasa tidak aman obyek dengan memunculkan kemungkinan saingan kuat obyek untuk menuju tahta, atau memunculkan wacana tentang ancaman seseorang yang tidak ingin obyek menduduki tahta. Hal ini bisa menimbulkan rasa tidak aman terhadap obyek. Dan penelitian akan hal ini membutuhkan waktu yang lama, dan provokator harus mengenal obyek dengan dekat.

Teknik Provokasi (yang aku tahu):

  1. Buktikan padaku! Contoh,”Kamu itu manusia tidak berguna!” “Apa?” “Sekarang, kamu buktikan kalau kamu berguna, angkat papan ini!”
  2. Hinaan, Contoh “Kamu nggak bisa apa-apa!” Semakin kreatif dan spesifik sebuah hinaan akan membuat perilaku obyek semakin dapat diprediksikan.
  3. Adu domba, Contoh,”Dia tidur dengan pacarmu semalam!” responnya mungkin “Akan kubunuh dia!”

Oh ya, mungkin anda kenal dengan istilah Troll? Troll adalah manusia yang memprovokasi terjadinya keributan di dunia maya dengan cara sengaja membuat posting tentang masalah sensitif dengan tujuan menimbulkan huru-hara.

Dalam beberapa forum, ada seseorang yang jika melontarkan suatu isu panas, hanya ditanggapi dingin, “halah, orang itu memang senengannya cari sensasi, ngapain ditanggepin” Maka dia telah diidentifikasikan sebagai troll

Troll adalah contoh provokator gagal, seorang provokator haruslah tampak pasif atau tidak bersalah saat memancing keributan agar tidak menimbulkan tudingan terhadap diri sendiri. Contoh provokator yang berhasil dapat dilihat dalam petualangan terakhir Hercule Poirotberjudul, Tirai, yang ditulis oleh Agatha Christie. Atau Marco Materazziyang sukses memancing 2 tandukan di dadanya.

Itulah sedikit pengetahuanku tentang provokasi. Ada yang mau nambahin?

re-post from http://dnial.wordpress.com/disclaimer/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s