Prolog Epidemi Hati

Hatiku sesak…
Bolehkah aku jujur bicara bahwa aku marah?
bahwa aku benci semua keadaan ini…
Aku gak pengen ngapa2in,
jujur aku hanya ingin nangis tanpa harus ada yang bertanya “kamu knapa?” dan kalo boleh minta lebih,
aku ingin dia memelukku ketika itu tanpa bertanya apapun,
hanya bilang “tenang, sayang…semua akan baik2 saja, aku akan selalu bersamamu”
Dan itu gak mungkin, untuk saat ini..
Aku sendiri dan cuma sendiri merasakan kesakitan ini.
Aku harus berjuang sendiri, mencoba untuk survive ditengah ini semua, mencoba secepatnya cuci muka ketika tiba2 airmataku keluar tanpa mengenal tempat dan waktu, mencoba tertawa ketika hatiku rasanya remuk,
berusaha untuk tidak pernah lepas galau supaya setidaknya aku bisa tertawa. Ini bagian terberat. Sungguh, ini bagian terberat.
Menyita seluruh pikiran dan perasaan.
Dan aku hampir gila, aku hampir gila…mungkin sebentar lagi benar2 gila.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s